Hari Korban 40.000 Jiwa antara Tragedi dan Misteri

Ibra La Iman (kiri)

Penulis: Ibrah La Iman

Surat perintah pada 11 Desember 1946 kepada pasukan elite Belanda Depote Speciale Tropen (DST) pimpinan Westerling dengan kode gerakan ‘Pembersihan Celebes’ berlangsung hingga awal tahun 1947 di hampir seluruh belahan daerah Sulawesi. Tak terkecuali di kawasan Kota Parepare, terdapat dua tempat penembakan yang kini menjelma Monumen 40.000 Jiwa. Pertama, di Kampung Sabbang tepatnya di ‘Kandang Oto’ atau Terminal Mobil dekat Pasar Senggol. Kedua, di jantung daerah Bacukiki dalam saat ini bersampingan dengan Gerbang Kampung Pariwisata sebelum masuk ke Pesantren Zubdatul Asrar Lappa Anging.

14 Januari 1947 menjadi hari kelabu dan sendu di Parepare. Penembakan pejuang kemerdekaan yang dipertontonkan di tengah khalayak umum sebagai peringatan dari kompeni tak terbayang betapa perihnya. Keluarga korban yang tersisa dan mendapatkan bagaimana peristiwa itu berlangsung masih menyimpan semacam kepedihan dalam jiwa. Bagaimana orang tua, sanak keluarga, ataupun handai taulan mereka tertembak dan darahnya tumpah juga menyala dimana-mana. Hingga harus dimakamkan dalam satu liang lahat.

Andi Makmur Makka, salah seorang anak korban misteri di halaman belakang Sulawesi itu sampai merasakan begitu dalam kepergian orang tuanya demi menjalankan ibadah berjuang untuk tanah air. Tak pelak di sudut ruangan atau ketika jua melintas di halaman Monumen 40.000 Jiwa Petta Makka terharu dan ingatan tentang tragedi apa maksud dari mengapa orang tuanya tertembak membuat ia tak tahu air mata harus tumpah kemana.

Pengorbanan para pejuang kemerdekaan tak dapat kita takar dengan apapun. Harta, tahta, raga dan jiwa telah dipertaruhkan seluruhnya, all in. Namun mereka ataupun keluarganya sama sekali tidak meminta apa-apa kecuali menjaga dengan baik apa yang telah diperjuangkan.

Langkah kecil di Rumah Peradaban Setangkai Bunga Makka yang lokasinya sepelemparan pandang dari Monumen 40.000 Jiwa depan Masjid Raya Anregurutta’ KH. Abduh Pabbajah semoga dapat menjadi penyambung ingatan dari masa ke masa untuk generasi ke generasi. Bahwa sungguh jarak pandang pemahaman dan penghayatan akan apa yang pernah terjadi berdampak pada berlipat-lipatnya jangkauan imajinasi dan realisasi masa depan demi terwujudnya nawacita perjuangan bangsa.

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *