JAKARTA – Pergerakan harga pangan nasional pada akhir pekan, Minggu (3/5/2026), menunjukkan dinamika yang cukup menarik. Sejumlah komoditas strategis terpantau mengalami penurunan harga, terutama kelompok beras dan bawang. Namun di sisi lain, beberapa kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan daging ayam justru masih bergerak naik.
Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia mencatat bahwa fluktuasi ini menjadi sinyal penting bagi stabilitas pasokan sekaligus indikator daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi domestik.
Perubahan harga tersebut memperlihatkan bahwa pasar pangan nasional masih berada dalam fase penyesuaian pasca-distribusi awal bulan.
Harga Beras Nasional Mengalami Koreksi
Penurunan harga paling mencolok terjadi pada komoditas beras.
Beras kualitas bawah I tercatat turun 3,08 persen menjadi Rp14.150 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas medium II juga turun cukup signifikan sebesar 3,13 persen menjadi Rp15.450 per kilogram.
Tidak hanya itu, beras premium pun ikut melemah.
Rinciannya:
- Beras kualitas medium I turun menjadi Rp15.800/kg
- Beras super I turun menjadi Rp16.850/kg
- Beras super II turun menjadi Rp16.400/kg
Meski begitu, ada pengecualian pada beras kualitas bawah II yang justru naik tipis 0,69 persen ke level Rp14.650 per kilogram.
Penurunan harga beras ini menjadi sinyal positif bagi konsumen, terutama menjelang peningkatan kebutuhan rumah tangga pada awal bulan.
Bawang Merah dan Putih Kompak Turun
Selain beras, harga komoditas hortikultura juga mengalami pelemahan.
Harga bawang merah turun 2,39 persen menjadi Rp45.000 per kilogram.
Sedangkan bawang putih turun lebih dalam, yakni 3,02 persen ke level Rp38.500 per kilogram.
Penurunan ini mengindikasikan distribusi pasokan yang relatif lancar di sejumlah sentra produksi.
“Pergerakan harga bawang yang menurun biasanya mencerminkan membaiknya pasokan dari daerah produsen utama,” ujar pengamat pangan dalam analisis pasar mingguan.
Harga Cabai Masih Bergerak Fluktuatif
Kelompok cabai masih menunjukkan volatilitas tinggi.
Harga cabai merah besar justru naik 1,54 persen menjadi Rp49.500 per kilogram.
Sebaliknya, beberapa jenis cabai lainnya mengalami penurunan cukup tajam:
- Cabai merah keriting turun 6,1 persen menjadi Rp43.900/kg
- Cabai rawit hijau turun 12,14 persen menjadi Rp43.050/kg
- Cabai rawit merah turun 6,32 persen menjadi Rp60.000/kg
Fluktuasi harga cabai umumnya dipengaruhi faktor distribusi, cuaca, dan pola panen di sentra produksi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas harga cabai masih menjadi tantangan utama pengendalian inflasi pangan nasional.
Daging Ayam dan Minyak Goreng Masih Menanjak
Di tengah tren penurunan mayoritas komoditas, harga protein hewani dan minyak goreng justru menunjukkan tekanan naik.
Harga daging ayam ras segar naik 2,68 persen menjadi Rp40.250 per kilogram.
Sementara itu, kenaikan juga terjadi pada:
- Minyak goreng curah naik menjadi Rp20.550/liter
- Minyak goreng kemasan bermerek I naik menjadi Rp24.050/liter
- Minyak goreng kemasan bermerek II naik menjadi Rp22.800/liter
Kondisi ini menjadi perhatian karena minyak goreng merupakan komoditas dengan dampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.
Daging Sapi, Gula, dan Telur Mengalami Penurunan
Di sisi lain, sejumlah komoditas protein dan pemanis mengalami koreksi harga.
Daging sapi kualitas I turun 3,54 persen menjadi Rp142.900 per kilogram.
Sedangkan daging sapi kualitas II turun menjadi Rp136.250 per kilogram.
Komoditas lain yang ikut turun:
- Gula pasir premium: Rp20.100/kg
- Gula pasir lokal: Rp19.050/kg
- Telur ayam ras segar: Rp31.000/kg
Penurunan ini dinilai mampu menjaga keseimbangan konsumsi masyarakat.
Analisis: Stabilitas Harga Masih Perlu Dijaga
Fluktuasi harga pangan nasional 3 Mei 2026 memperlihatkan adanya keseimbangan yang belum sepenuhnya stabil.
Penurunan harga beras dan bawang memang memberikan ruang bagi penguatan daya beli masyarakat. Namun kenaikan minyak goreng dan ayam tetap menjadi catatan serius.
Pemerintah bersama otoritas pangan perlu memastikan distribusi tetap lancar agar tekanan harga tidak kembali melonjak.
Data ini juga menjadi indikator penting menjelang evaluasi inflasi pangan bulanan.




