Koridor.id, PAREPARE – Menjelang Hari Raya Idul Adha, Pemerintah Kota Parepare melalui Dinas Peternakan mengintensifkan pengawasan hewan kurban Parepare. Langkah ini tidak sekadar rutinitas tahunan, melainkan strategi preventif untuk menjaga kesehatan ternak sekaligus melindungi konsumen.
Sebanyak 1.025 sapi kurban telah mendapatkan penanganan berupa pemberian obat cacing, vitamin, serta vaksinasi. Intervensi ini menyasar berbagai titik penjualan yang tersebar di kota.
Pemeriksaan Intensif untuk Cegah PMK
Upaya ini berfokus pada pencegahan penyakit, terutama Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sebelumnya sempat mengganggu sektor peternakan nasional.
Tim petugas turun langsung ke lapangan, termasuk di wilayah Lemoe (Bacukiki) dan Ujung (Lapadde). Mereka tidak hanya melakukan pemeriksaan visual, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan ternak secara menyeluruh.
Kepala Dinas Peternakan Parepare, Wildana, menegaskan pentingnya langkah preventif.
“Kami periksa kesehatan, pemberian vitamin dan pemberian obat cacing untuk mencegah penyakit PMK kepada hewan ternak,” ujarnya.
Pendekatan ini menempatkan pencegahan sebagai prioritas utama, mengingat dampak PMK dapat merugikan peternak secara ekonomi dan menurunkan kepercayaan masyarakat.
100 Titik Penjualan Jadi Fokus Pengawasan
Di sisi lain, dinamika distribusi hewan kurban juga menjadi perhatian. Dinas Peternakan mencatat ada sekitar 100 titik pedagang hewan kurban di Parepare.
Jumlah ini meningkat signifikan saat musim Idul Adha, terutama dari pedagang musiman. Kondisi tersebut mendorong pengawasan dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
“Kami tetap awasi ketat, utamanya pedagang hewan kurban musiman,” kata Wildana.
Hingga saat ini, belum ditemukan kasus hewan yang terjangkit penyakit. Namun, kewaspadaan tetap dijaga untuk mengantisipasi potensi penyebaran.
Disiplin Peternak Jadi Kunci
Pengawasan pemerintah tidak akan efektif tanpa dukungan pelaku usaha. Karena itu, Dinas Peternakan menekankan pentingnya peran peternak dan pedagang.
Beberapa langkah krusial yang harus diperhatikan:
- Menjaga kebersihan kandang
- Memberikan pakan berkualitas
- Segera melaporkan gejala penyakit
Langkah-langkah sederhana ini menjadi fondasi dalam menjaga kualitas sapi kurban Parepare tetap layak konsumsi.
Harga Sapi Naik, Pembeli Belum Bergerak
Di tengah upaya menjaga kualitas, pasar justru menunjukkan gejala yang berbeda. Sejumlah pedagang mengeluhkan penjualan yang masih sepi.
Nurdin, salah satu pedagang sapi, mengungkapkan kondisi tersebut.
“Sepi sekarang. Biasanya kalau 20 hari mau lebaran itu sudah banyak yang datang,” katanya.
Selain itu, terjadi kenaikan harga sekitar Rp1 juta per ekor.
“Kalau kemarin Rp17 juta, sekarang naik Rp18 juta,” tambahnya.
Kenaikan harga sapi kurban ini diduga dipengaruhi oleh biaya pakan, distribusi, serta efek pasca wabah penyakit ternak sebelumnya.
Antara Kesehatan Ternak dan Daya Beli Masyarakat
Situasi ini mencerminkan dua realitas yang berjalan beriringan. Di satu sisi, pemerintah berhasil menjaga kualitas dan kesehatan hewan kurban. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Jika tren harga terus meningkat tanpa diikuti lonjakan permintaan, pedagang berpotensi menghadapi tekanan menjelang puncak penjualan.
Kondisi ini menegaskan bahwa pasar hewan kurban tidak hanya ditentukan oleh faktor kesehatan ternak, tetapi juga oleh stabilitas ekonomi masyarakat.



